Evan nampak terdiam melihat sekitanya.Ia raupkan kedua tangannya dan menghembuskan nafas berat.Ia tersenyum kecut dan menyipitkan matanya.Nampak seorang pria kurus sedang sibuk mengumpulkan botol-botol bekas yang berserakan dilapangan.Ali.Panggil saja ia Ali.Seorang yang begitu taat dan bisa membuat kami tertawa.Ototnya mungkin sudah terlalu keram untuk menjalani masa bersama kami,wajahnya yang mudah membuat kami ingat,dan wajah komedi polos yang selalu ia sumbang.Ah!Tinggalkan saja dulu kit man keren yang satu ini.Di sisi lain,nampak berdiri kokoh badan yang mungkin sudah ditempa dengan kerasnya hidup sedari cilik.Jarot.Sang pelatih kiper yang kini melahirkan bakat besar,Ravi Murdianto.Evan tersenyum,melirik kakinya yang berdiri kokoh di Myanmar,nampak juga Uni Emirat Arab yang sedari tadi tertawa gembira.Kaki dekil,mungil dan hitam.Yang dulu hanya berani bermimpi untuk berdiri di lapangan hijau sebesar ini.
"Pulang..."Teriak seseorang membuyarkan lamunannya
"Pulang Coach?"Tanyanya berusaha untuk memperjelas kata-kata sebelumnya
"Ya.."
Dengan langkah gontai Evan keluar dari stadion.Nampak Putu,Ravi,Yama,Muchlis dan Maldini tertunduk.Tuhan...inikah yang dinamakan akhir?Tanyanya dihatinya sendiri.
"Terimakasih..."Ucap Coach Indra sambil tersenyum,namun senyuman misteri itu bisa dng mudah kami tebak,ia kecewa.
"Coach..."Panggil kami lirih
"Kalian sudah menjadi keluarga disini"Ucapnya sambil tersenyum "Mungkin kalian akan tumbuh besar"Imbuhnya
"Bukan akhir Coach.."Elak Paulo
"Jangan pernah kalian lupa untuk hal ini"
"Coach..."Panggil Evan dengan menahan tangisnya,bus yang mereka tumpangi namak belum mau beranjak pergi dari emperan stadion
"Esok kalian akan menjadi lebih besar!!"
Kami terdiam
"Kalian janji!!!!!"Teriak beliau memecah tangis kaki yang mulai terurai
"Janji Coach.."
"Kalian janji!!!!!!!"
"Janjiii!!!!!!!"Ucap kami semangat
...
==>Indonesia
Indonesia,anakmu pulang untuk perjuangan selama ini.Evan terdiam memandangi poster U-19 didinding bercatkan cream.Ia lirik lagi baju kebanggaannya.Garuda.
"Evan Dimas Darmono.."Panggil suara serak yang mulai beberapa hari ia hafalkan
"Iya Coach.."
"Ayo!"
Lorong gedung stadion GBK(Gelora Bung Karno) nampak pengap,ada keriuhan diluar,ruang ganti sudah dipenuhi seniornya,Firman,Zulkifli,Gonzales,dan kawan yang lainnya.
"Berjuang!!!"Teriak suara tua itu memerintah,dan bara api Evan nampak menyala terang,kapan lagi untuk merah putih.
==>Indonesia - Timor Leste
"Goooolllll"Teriak Putu dirumahnya,Batu bulan Bali.Ia tesenyum melihat kawannya,lebih tepat mantan kaptennya.Aih...rasanya kurang sekali jika hanya dia yang sujud sendiri.Dulu kami selalu bersama sama.
...
"Evan kau hebat.."Suara itu terngiang lagi di gendang telinganya
"Coach Indra..."Ucapnya histeris dan segera memeluk beliau.
"Myanmar bukan akhir nak.."
" :'( :'( :'( "
"Hei.Jangan menangis..."
"Coach...Terimakasih.."
"Kau sudah besar nampaknya.." Ucap beliau dan tak beliau sadari air matanya menetes begitu saja. "Jangan pernah kau masuk lapangan jika kamu belum mengetahui arti solidaritas kepada kawanmu!Jangan pernah kau masuk lapangan jika kau belum siap menang anakku.."
"Iya Coach..."
"Kamu tunjukan kepada mereka!!!Kau yang kecil ini adalah orang yang terbuat dari apa!Di tempa dengan apa!!"
Evan tersenyum dan ia bulatkan tekad untuk merah putih.
Mereka mungkin sudah hilang,sudah berpisah,sudah pecah.Namun,yang namanya pahlawan.Mau seberapa lamanya pun.Nama mereka pasti selalu ada.Sampai emas berkarat dan sampai kapan pun.Yang namanya perjuangan itu selalu dikenang.Mereka mungkin berpisah,tapi tidak degan semangat mereka untuk Indonesia.
Myanmar bukan akhir dari semuanya sobat! ^_^
"Pulang..."Teriak seseorang membuyarkan lamunannya
"Pulang Coach?"Tanyanya berusaha untuk memperjelas kata-kata sebelumnya
"Ya.."
Dengan langkah gontai Evan keluar dari stadion.Nampak Putu,Ravi,Yama,Muchlis dan Maldini tertunduk.Tuhan...inikah yang dinamakan akhir?Tanyanya dihatinya sendiri.
"Terimakasih..."Ucap Coach Indra sambil tersenyum,namun senyuman misteri itu bisa dng mudah kami tebak,ia kecewa.
"Coach..."Panggil kami lirih
"Kalian sudah menjadi keluarga disini"Ucapnya sambil tersenyum "Mungkin kalian akan tumbuh besar"Imbuhnya
"Bukan akhir Coach.."Elak Paulo
"Jangan pernah kalian lupa untuk hal ini"
"Coach..."Panggil Evan dengan menahan tangisnya,bus yang mereka tumpangi namak belum mau beranjak pergi dari emperan stadion
"Esok kalian akan menjadi lebih besar!!"
Kami terdiam
"Kalian janji!!!!!"Teriak beliau memecah tangis kaki yang mulai terurai
"Janji Coach.."
"Kalian janji!!!!!!!"
"Janjiii!!!!!!!"Ucap kami semangat
...
==>Indonesia
Indonesia,anakmu pulang untuk perjuangan selama ini.Evan terdiam memandangi poster U-19 didinding bercatkan cream.Ia lirik lagi baju kebanggaannya.Garuda.
"Evan Dimas Darmono.."Panggil suara serak yang mulai beberapa hari ia hafalkan
"Iya Coach.."
"Ayo!"
Lorong gedung stadion GBK(Gelora Bung Karno) nampak pengap,ada keriuhan diluar,ruang ganti sudah dipenuhi seniornya,Firman,Zulkifli,Gonzales,dan kawan yang lainnya.
"Berjuang!!!"Teriak suara tua itu memerintah,dan bara api Evan nampak menyala terang,kapan lagi untuk merah putih.
==>Indonesia - Timor Leste
"Goooolllll"Teriak Putu dirumahnya,Batu bulan Bali.Ia tesenyum melihat kawannya,lebih tepat mantan kaptennya.Aih...rasanya kurang sekali jika hanya dia yang sujud sendiri.Dulu kami selalu bersama sama.
...
"Evan kau hebat.."Suara itu terngiang lagi di gendang telinganya
"Coach Indra..."Ucapnya histeris dan segera memeluk beliau.
"Myanmar bukan akhir nak.."
" :'( :'( :'( "
"Hei.Jangan menangis..."
"Coach...Terimakasih.."
"Kau sudah besar nampaknya.." Ucap beliau dan tak beliau sadari air matanya menetes begitu saja. "Jangan pernah kau masuk lapangan jika kamu belum mengetahui arti solidaritas kepada kawanmu!Jangan pernah kau masuk lapangan jika kau belum siap menang anakku.."
"Iya Coach..."
"Kamu tunjukan kepada mereka!!!Kau yang kecil ini adalah orang yang terbuat dari apa!Di tempa dengan apa!!"
Evan tersenyum dan ia bulatkan tekad untuk merah putih.
Mereka mungkin sudah hilang,sudah berpisah,sudah pecah.Namun,yang namanya pahlawan.Mau seberapa lamanya pun.Nama mereka pasti selalu ada.Sampai emas berkarat dan sampai kapan pun.Yang namanya perjuangan itu selalu dikenang.Mereka mungkin berpisah,tapi tidak degan semangat mereka untuk Indonesia.
Myanmar bukan akhir dari semuanya sobat! ^_^
Komentar
Posting Komentar