LOVE Of STADIUM

***
Sebuah bola sempurna menghantam kepalaku,sejenak aku merasakan pusing.Rambut hitam legam yang tertata rapih kini sudah berantakan.Sorai penonton juga mulai sayup.Dan aku merasa semua mata tertuju pada tubuhku yang mulai oleng.Lalu…

Bruukh…

Jatuh

Sebelum aku pingsan,samar-samar aku melihat si empunya bola,meringis dengan tatapan sendu.Lelaki berseragam OSIS,dengan rambut bergel hitam legam.

Namaku Trigana Asha Dhamora,dan mulai saat itu..aku benci BOLA.
***
Disinilah aku,terkungkung dengan lautan sorai-sorai yang lambat laun membuat gendang telingaku pecah.

Demi Tuhan,jika bukan karena tuntutan sebagai pekerjaan yang aku geluti kurang lebih tiga bulan terakhir.Aku bersumpah,tidak mau,bahkan merasa malas menginjak bangunan yang menyelimuti lapangan berumput hijau dengan dua jala di kedua sisinya.

Sedari tadi aku sibuk mengambil gambar,terkadang hasilnya buram karena sosok gembul di sebelahku yang tidak bisa diam,berulang kali ia menyenggol sikutku saat kamera sudah focus akan objek.Entah apa yang ia lakukan,bersorak gembira.Bahkan saat wasit meniup peluitpun aku tak tahu itu maksudnya apa.

     “Maaf mengganggu,bisa meminta waktu anda sebentar?” tanyaku tersenyum ramah,walau lelah dan haus yang menyelimuti tenggorokan

     “Nih…” lelaki ini dengan senyum simpulnya,bahkan tak terlihat seperti orang tersenyum menodongkan minuman dingin yang terlihat sangat menggiurkan
    
     “Terimakasih..” jawabku tersenyum,segera membuka botol dan meminumnya,membiarkan air mineral itu membasahi tenggorokanku.Ia tersenyum simpul,bukan senyum yang baru..seperti sudah lama berjumpa

     “Bisa di mulai wawancaranya?” tanyanya dengan suara berat nan seksi itu,aku hanya berani melirik dengan ujung mata,pura-pura sibuk dengan tape recorderku

     “Baik..perkenalkan nama saya Trigana Asha Dhamora”

***
Bola yang aku lemparkan melenceng dari sasaran,karena lengan tanganku terkilir.Bola melayang jauh meninggalkan lapangan,mengenai kepala seorang kakak kelas,beberapa detik ia masih berdiri tegap.Lalu ambruk bagai ditiup oleh helaan nafas teman-temanku.

     ‘Ya ampun..bodohnya aku’

Gadis dengan kulit kuning langsatnya terlihat syok,rambut hitam legamnya nampak begitu halus saat bersentuhan langsung dengan kulitku.Entah kenapa aku suka melihat gadis manis ini memejamkan mata.Pipinya timbul rona merah macam tomat saat samar ia membuka matanya.Namanya…

Trigana Asha Dhamora

Kelas XII Ipa 5

Dan keesokan harinya,saat ingin menemuinya.Kata teman kelasnya,ia tak masuk.

Namaku Razka Qheendar,dan mulai saat itu aku mulai tertarik dengan gadis rambut hitam legam.
***

     “Razka…” jawabnya masih dengan sikap dingin

     “Bagaimana perasaan anda saat memenangkan pertandingan ini?Tentu sebagai penjaga gawang peran anda di sini sangat dibutuhkan”

     “Tentunya bangga,apalagi ini merupakan piala pertama yang saya raih” ucap Razka,nama yang lumayan familiar.Aku suka gerak geriknya yang terkesan cuek,dan nampak ia juga melirik diam-diam aku yang sibuk dengan catatan

Dia,punya tatapan yang amat aku kenali selama ini.

     “Siapa orang pertama yang menurut anda sangat berjasa?”
    
     “Kedua orang tua saya”

***
     “Kita memang udah nggak cocok lagi Ma!Mama jangan lagi mempersulit keadaan!Mama yang selalu tidak punya waktu untuk keluarga”

     “Papa juga tidak pernah ada waktu sama kita,sama Mama,sama Asha..Papa egois!Papa selingkuh di belakang Mama!”

Perengkaran itu,dengan terpaksa aku pertajam kedua telingaku.Tak kusangka,air mata menyusuri kedua pipiku secara perlahan,namun ia berhasil menyayat hatiku.

Prangggkk

Suara benda yang dilempar terdengar jelas di kedua telingaku,membuat aku memejamkan mata.Berharap saat aku kembali membuka kelopak mata,semua akan kembali seperti semula

     “Mulai saat ini!!Kita bercerai!!Aku sudah tidak tahan lagi dengan tingkahmu!Terserah…kamu mau bawa Ashapun…aku sudah tidak perduli!” ancam Papa,mengacak rambutnya frustasi,berbalik badan mengambil kunci mobil fortuner kesayangannya lalu meninggalkan Mama yang tersungkur dipojokan ruangan.Papa gebrak pintu dengan sekuat tenaga,lalu deru mesin mobil terdengar sayup dan lambat laun menghilang.

Namaku Trigana Asha Dhamora,dan mulai saat itu,hidupku yang baru mulai.Tanpa kedua orang tua.Dan aku benci dengan hubungan.
***
     “Masih ada yang ingin dibicarakan?” Tanya Razka mengangetkan waktu yang begulir,aku segera menggeleng dan merasa waktuku cukup dengannya

Senja sudah mulai menyapa,matahari juga terlihat setengah dari stadion.Tak ada lagi gemuruh supporter yang aku dengar,hanya sayup rayuan angin dan binatang jangkrik yang terus berbunyi.Aku tersenyum,membenarkan letak rambutku yang berantakan,yang tak aku sadari Razka sedari tadi melihat gerak gerikku.

     “Ada apa?” tanyaku kikuh

     “Kebawah…” ajaknya,menarik tanganku lembut,menyusuri anak tangga tribun menuju lapangan di bawah

Gerimis mulai menyapa kami,dan matahari benar-benar tenggelam.Aku hanya berjongkok melihat rumput yang hijau lembab oleh air.Razka terduduk disampingku,memandangi si kulit bundar yang terdiam di depannya.Sudah berapa tahun aku tak melihat benda ini?

     “Rasanya pernah ketemu..” ucap Razka dengan senyum sekilas,ia terlalu irit dengan senyum

     “Rasaku juga..” jawabku,melihat wajahnya dari samping dan hidungnya yang mancung itu menyembul.Ia ganteng.

     “Trigana Asha Dhamora.XII Ipa 5,SMA 36 Jakarta?Yang dulu pernah kena bola di lapangan futsal?”

Aku sedikit menegang,mendengar pengakuan Razka tadi.

     “Dan aku… Razka Qheendar,adik kelasmu yang melempar bola tadi” ucap Razka terkekeh pelan

     “Sungguh?”

Razka hanya menggangguk,berdiri dari duduknya mengamit bola yang tergeletak,memainkannya.Dan hujan turun saat itu juga.

     “Padahal dulu aku pengen banget minta maaf sama kamu..eh kamu malah nggak masuk sekolah.Aku fikir kamu marah..” ucap Razka tertawa kecil,membiarkan tubuhnya terguyur hujan

Asal kamu tahu Trigana Asha Dhamora ,kamu adalah cinta pertama zaman aku SMA.Si kakak kelas dengan rambut hitam legam.

     “Padahal..gara-gara kejadian itu,aku jadi benci sama yang namanya bola” ujarku memayungi dirinya,Razka agak menegang saat aku disampingnya yang sedikit berjinjit untuk mengimbangi postur tubuhnya

     “Boleh aku mengantarmu pulang?”
Aku hanya mengangguk,lalu kami berdua meninggalkan stadion yang makin malam makin gelap.

Namaku Trigana Asha Dhamora,malam itu,seorang penjaga gawang,Razka Qheendar merubah semua sugestiku tentang bola.

2 BULAN KEMUDIAN…
Semenjak kejadi malam itu,tentang berubahnya sugestiku terhadap bola.Seorang Razka Qheendar,yang aku harap kehadirannya di stadion yang sama,tak pernah terlihat batang hidungnya.Padahal aku tak pernah absen sekalipun untuk datang ke stadion ini setiap sorenya.

Bodoh

Seperti sore biasanya,aku datang terduduk di bangku penonton seorang diri.Meliahat sendu kearah lapangan yang kosong,terduduk berdiam diri untuk beberapa menit.Dan hari ini,sepotong kue tart mungil berada di dekapanku dengan dua lilin merah yang sudah kunyalakan beberapa detik lalu.

Aku tahu,seorang Razka Qheendar ulang tahunnya sama dengan Trigana Asha Dhamora.Dan aku harap Razka datang untuk merayakannya

     “Happy Birth Day to me..”  ucapku yang bernyanyi sendu,pelan sekali agar tak mengganggu turunnya air mataku,meniup pelan lilin merah tersebut lalu tertawa seorang diri

Bodoh

     “Trigana Asha Dhamora..”  panggil suara yang teramat aku rindukan,lalu sesegera mungkin aku balikan tubuhku,dan sosok tegap dengan rambut penuh gelnya itu tersenyum ke arahku “selamat ulang tahun…” ia sudah duduk disebelahku,menghapus air mataku lalu mencolekan krim coklat ke pipiku
     “Kamu tahu…Trigana Asha Dhamora,kamu adalah cinta pertamaku semasa SMA” ucap Razka pelan,menatap langit dari stadion.Kami berdua memutuskan untuk ke lapangan,rebahan di rumputnya yang cukup empuk untuk tidak menyayat hati ku lagi

     “Siapa sih yang nggak bangga di cintai sama Razka Qheendar,brondong manis yang ngangenin” ucapku terkekeh,dan aku melihat ada semu merah dipipinya

Namaku Trigana Asha Dhamora,bangga bukan berarti ‘iya’ dan suka bukan berarti ‘cinta’
Namaku Razka Qheendar,yang memilih menjadi adik yang baik untuk Asha

     “Selamat malam Asha” ucap Razka yang masih samar-samar aku dengar,dan kecupan ringan di pipi membuatku tersenyum.

Namaku Trigana Asha Dhamora,yang memilih masih takut terhadap hubungan daripada menjalaninya terlebih dahulu.L.O.V.E.O.F.S.T.A.D.I.U.M.R.A.Z.K.A

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan

Maybe Someday