Masa SMA, Masa Mengambang, dan Kuliah



Aloha! Balik lagi ke blog yang berulang-ulang gonta-ganti nama, yee soalnya pemiliknya bosenan banget, asli! Cus ke topik aja yak! Dari judulnya kayaknya netijen udah pada bisa nebak nih, masa SMA, masa mengambang, dan masa kuliah. Oke mungkin udah pada paham deh soal pengertian masa SMA dan masa kuliah, tapi untuk masa mengambang?

Yup diriku menamai fase belum mendapatkan sebuah pegangan berupa (PTN, PTK, dan juga PTS) sama sekali dengan sebutan masa mengambang. Mungkin bagi teman-teman yang memilih untuk bekerja terlebih dahulu bisa beda lagi ceritanya, mungkin lebih inspiratif. Karena mengasilkan uang di usia yang masih terbilang muda (tsaaah :v) diriku yakin suliid sekali. Beri tepuk tangan dan penghargaan untuk teman-teman yang memilih bekerja terlebih dahulu. Karena daku ini belum kebayang sama sekali tentang dunia pekerjaan, jadi fase belum mendapat perguruan tinggi itu benar-benar seperti fase mengambang, tanpa pegangan, tanpa adanya arah tujuan jalan, apalagi pundak untuk bersandar (Ciaaaaa).

Oke kita mulai dulu deh dari masa SMA. Jadi anak baru kelas satu SMA, yang seragamnya udah berganti warna menjadi putih abu-abu itu ibaratnya kaya anak SMP ganti seragam doang, secara pikiran dan tingkah laku kita pasti masih kebawa sama jaman SMP. Jaman jajan es lilin depan gerbang sekolah pas waktunya sholat dhuhur berjamaah, atau pulang sekolah langsung ke warnet buat buka akun facebook. Daku ini selama SMA benar-benar menjalani masa yang namanya jalan tertatih, ibaratnya temen-temen sekelas udah pada bisa lari diriku ini masih tertatih mengikuti semua pelajaran. Iye! Semua pelajaran. Sempet juga ngerasain nangis semaleman karena nggak bisa ngerjain pr matematika, padahal dulu jamannya kelas sepuluh dari lima hari kerja, pertemuan dengan pelajaran matematika sebanyak 4 kali. Itu tandanya diriku hampir selau menangis setiap malam karena nggak bisa ngerjain soal matematika, dan terpaksa harus minta tolong sama sudara yang udah pada kuliah. Duh! Makasih banget dah. Akibat dari berjalan tertatih itu daku bertengger di peringkat 20 besar dari 36 siswa, dan orang tua benar-benar memaklumi, nggak sedramatis kaya di kunciin di dalam kamar mandi sehari penuh, enggak. Tapi semester dua peringkat diriku malah kembali merosot jauuuuuh jadi si anak dengan peringkat 25.

Di kelas sebelas merupakan masanya aktif dalam organisasi, entah itu OSIS, pramuka, PMR, atau organisasi lainnya yang ada di dalam sekolah. Terpilihnya daku menjadi salah satu pengurus organisasi yang bergerak di bidang baris berbaris benar-benar menyita waktu dan fisik. Karena telah diberikan amanah yang cukup besar untuk menjalankan sebuah organisasi diriku benar-benar memberikan segenap raga dan jiwa (ceileeh), pulang malem udah biasa banget, minggu diisi buat latihan buat upacara, sering keluar kelas buat nyiapin event-event organisasi, sampai izin hampir berminggu-minggu di jam terakhir pelajaran untuk latihan salah satu lomba di kota seberang. Efek yang diriku rasain? Capek? Banget! Badan sampe kaya remuk, otot kaki ketarik semua kaya orang ngajak ribut. Item? Banget! Diriku item banget, polang-paleng dari muka sampe punggung tangan karena efek panas-panasan di siang bolong. Dan yang paling parah efek yang diriku rasain adalah daku merasa asing masuk ke dalam kelas. Benar-benar menjadi manusia terasing dengan atmosfer kelas, karena saking jarangnya ada di dalam kelas. Materi pelajaran nggak tahu sampai mana, tugas kelompok nggak tahu sama siapa, malah kadang diriku harus ikut ulangan susulan sendirian.

Tapi apa yang daku dapatkan dari latihan fisik setiap hari dan ikut organisasi? Percayalah nggak ada di setiap keputusan dan tindakan yang diambil itu selalu berefek buruk, pasti ada kebaikan lain yang mengikuti (tsaaah :v). Dari latihan mati-matian siang-sore-dan pagi itu SMA diriku mendapatkan juara umum dalam perlombaan baris berbaris yang diadakan di salah satu SMA di kota Yogyakarta! Juara umum se-Jateng-DIY! Jateng-DIY broh! Alhamdulillah banget, daku ini nggak cuma numpang nyoret-nyoret tipe-x di meja kelas, tapi diriku juga nyumbang tiga piala untuk sekolah. Alhamdulillah. Selain berhasil mengharumkan nama sekolah, diriku jadi banyak relasi, menjadikan diri lebih disiplin, dan lebih menghargai orang lain. Kebaikan lain yang turut serta setelah diriku bersibuk berorganisasi adalah peringkat kelas yang ikut naik, semester tiga menjadi 18 dan semester empat menjadi 17. Walaupun terlihat biasa aja, tapi bagi diriku itu merupakan perubahan yang cukup baik. Memang benar kata kakak pelatih PBBku, karena kata beliau PBB tidak melulu tentang hadap kanan, lalu balik kanan dan lencang depan. Tetapi menjadi moment untuk menyelaraskan hati dan pikiran dengan seluruh anggota tim. Karena tingkat kesulitan menghafal variasi gerakan PBB free style sama sulitnya dengan menghafal rumus matematika. Jadi jangan meremehkan apapun ya guyys!

Setelah itu kenaikan kelas, diriku sudah dinobatkan menjadi anak kelas tiga, pelajar ringkat akhir, atau biasa disebut juga dengan senior sok gahol di sekolah (wkwkwk). Menjadi penghuni kelas tiga mewajibkan diriku untuk melepas kepengurusan organisasi kemudian diberikan kepada adik kelas sebelas, dan memilih fokus untuk menjalani serangkaian ujian, ujian sekolah, ujian nasional, ujian SBMPTN, ujian mandiri, ujian ditinggal gebetan pas udah baper beneran (iidddiiih :v). Menjadi kelas tiga sudah menjadi makanan sehari-hari untuk balik sore karena ada tambahan jam pelajaran untuk ujian nasional, tiap hari kudu berhubungan dengan DNA ADN, rumus algoritma, HCN HCl, sampai ke berapa besar gaya dua benda yang saling bergesekan pada lantai kasar. Pusing? Banget! Tapi yang namanya fase hidup harus dijalanin dan dilewatin. Daku menjadi anak kelas tiga sungguh menjadi pelajar yang ambis, diam-diam ambis, diam-diam mematikan, diam-diam nikung (wkwkwkwk :v) sampai akhirnya diriku bertengger di peringkat 8 besar, ingat! Dari yang pernah berada di peringkat 25 sampai kini ada di 8 besar, benar-benar merupakan perjalanan yang tak mudah. Sampai seminggu sebelum pengumuman 50% kuota SNMPTN sekolah, sebenarnya diriku tak berharap banyak lolos 50%nya tapi tiga hari sebelum pengumuman tersebut beneran daku mimpi kalau layar di dalam komputer saat melihat hasil SNMPTN diriku itu hijau, beneran hijau. Dari mimpi itulah diriku optimis buanget, dan memang benar daku lolos dalam 50% kuota SNMPTN.

Setelah memilih prodi dan universitas yang diriku dambakan, mungkin saat itu daku berubah menjadi manusia teroptimis sedunia. Sampai semua hal yang tiba-tiba diriku lihat bewarna hijau itu daku anggap sebagai pertanda bahwa bakalan lolos SNMPTN 2018! Beneran! Sekonyol itu. Misal kaya lagi naik motor, meleng dikit, liat depan eh lampu ijo! Terus dalem hati bilang, wah! Lolos SNMPTN nih! Se-bego itu, entah itu namanya optimis atau begoin diri sendiri daku nggak tahu. Karena berubah menjadi manusia teroptimis sejagat raya, diriku sama sekali nggak ada persiapan untuk SBMPTN, berangkat les aja kalau mau dan niat. Jangankan les, daftar untuk ikutan SBMPTN aja diriku belum, sumpah! Sebego itu akutuh.

Pas pengumuman SNMPTN tinggal sejam lagi, jantung udah kaya mau copot, ribut banget kaya mau pawai tujuh belasan. Hingga tibalah pengumuman SNMPTN, dengan penuh kepercayaan diri diriku buka web SNMPTN di ponsel, beberapa temen yang ada di dalam grup kelas satu persatu bilang 'belum rezekinya' ada juga yang bilang 'alhamdulillah'. Berulang-ulang webnya diriku coba tapi nggak bisa, server penuh. Oke daku nunggu beberapa menit sambil liat grup WA, malah beberapa temen nawarin buat buka hasil pengumuman SNMPTN dengan alibi takut kitanya jantungan karena nggak kuat.

Merah. Oke, diriku ulangi lagi. Hasilnya merah. Diriku ditolak sama SNMPTN dan disuruh berjuang dengan SBMPTN 2018! Nangis? Nggak! Daku malah nggak bisa. Tapi kecewa, kecewa berat. Dari situ sudah mulai timbul kebingungan lainnya, gimana SBMPTN? Mau daftar apa? Diriku udah terlanjur males buat belajar. Itulah, untuk teman-teman yang tidak dinyatan lolos kuita SNMPTN jangan berkecil hati, sebenarnya satu jalan yang tertutup terdapat seribu jalan terbuka yang menunggu untuk dilewati. Merasa sedih sungguh boleh, tetapi sedih berkepanjangan tidak.

Akhirnya diriku mulai mendaftar SBMPTN dengan kampus pilihan yang berbeda jauh dengan kampus pilihan di SNMPTN, karena jujur diriku benar-benar patah hati setelah ditolak kampus impianku itu (huhuhuh :' ) separah itu. Daku mulai ikutan berangkat les SBMPTN, mulai mengerjakan beberapa soal-soal SBMPTN, eh ketemu lagi tuh sama si HCN dan HCl, buset dah. Kota ujian diriku untuk SBMPTN adalah Semarang, kenapa jauh bener? Yup! Karena tujuan daku untuk tes itu bukan hanya untuk SBMPTN, tapi juga untuk main di kota orang. Iya, se-enggak niatnya daku, sampai-sampai salah masukin bulan lahir di LJK SBMPTN, yang harunya 04 jadinya 05 saking kebanyakan pikiran makan tahu bakso di pinggir jalan keknya. Akibat ketidak seriusan tersebut diriku kembali ditolak. Kali ini diriku menangis, karena memang rasanya sakit, sesakit itu ya ditolak (waduuh).

Inilah daku masuk ke dalam fase mengambang, masa mengambang.
Hidup rasanya benar-benar mengambang, beneran nggak ada sesuatu yang bisa dijadikan pegangan, berusaha menggapai-gapai apa yang sudah berlalu tapi untuk apa? Berhari-hari telinga selalu berdenging, kaya lupa bagaimana suara jernih yang pernah kedenger, mendadak gagu karena rahang beneran kaku. Mau ngomong apa? Mau nyalahin siapa? Hingga diriku jatuh pada titik di mana hidup buat tidur dan makan aja rasanya nggak enak, padahal biasanya kalau mau tidur ya tidur aja, makan ya makan aja, tapi kemarin rasanya pas mau tidur jadi kebayang bangun nanti itu semua mimpi nggak ya? Atau bisa nggak di rewind kejadian sebelumnya? Mau belajar lagi, tapi untuk ngeliat soal rasanya aja mau muntah, saking enegnya. Baca bacaan bahasa Indonesia udah kaya keputer persis kaya pop *ce ke blender, liat bacaan bahasa Inggris kaya mau bilang 'aing macaaaan' (lah? Nggak nyambung yak). Terus aja hidup kaya gitu, sampai dari beberapa orang banyak banget omongan. 'Kenapa dulu nggak pilih univ A prodi B aja?' atau 'kenapa dulu nggak pilih univ C prodi D sih?' bahkan sampai pada 'dari kemarin main mulu sih' sungguh menjadi beban tersendiri, apalagi beberapa teman sudah sibuk bertanya 'eh keterima di mana?' ingin sekali diriku jawab 'cicing maneh! Cicing, aing macan!’.

Akhirnya dengan perasaan hati yang mendayu-dayu daku mendaftar ujian mandiri di salah satu universitas di Yogyakarta, sekaligus universitas yang menjadi impian diriku yaitu yu ji em atau UGM, patah hati ketolak SNMPTN kayaknya daku udah move on deh. Tapi ujian ini diriku benar-benar serius, sampai-sampai beli segala macam bentuk soal ujian tulis dari tahun ketahun, ikutan daftar tes online yang harganya lumayan, sampai diriku sudah kembali lagi rajin mengikuti les. Rasanya benar-benar raganya daku kembali ke dalam diri. Selain daftar ujian mandiri di UGM daku juga mendaftarkan diri di kedinasan yang berada di Yogyakarta yaitu STPN, dan kembali mendaftar ujian mandiri di UPN Veteran Yogyakarta.

Rasanya menyedihkan sekali, ketika lebaran udah pada bersantap dengan daging rendang dan opor diriku masih ada satu tugas lagi, yaitu belajar untuk ujian mandiri. Tiba saatnya diriku mau tes STPN di Jogja (waktu itu jadwal tes STPN duluan dibanding tes UGM abis itu baru tes UPN YK) dan diriku kembali malah sibuk pengen liburan di Jogja, beneran fokus untuk tes itu cuma jadi alibi supaya bisa buat main di Jogja. Segitunya daku kurang piknik kali yee. Tes STPN ini bener-bener diriku berubah jadi manusia optimis lagi, kayaknya hidup diriku penuh dengan rasa optimis (tsaaaah :v) soal yang diriku hadapi itu kebanyakan bersangkutan dengan perhitungan skala, yee karena STPN itu berhubungan dengan pemetaan, terus kebanyakan juga soal trigonometri kalau nggak salah, dan diriku kira bakalan ada tes bahasa Inggris tapi nyatanya nggak ada, yang ada hanya tes bahasa Indonesia dan psikotes deh kalau nggak salah, maklum daku sudah lupa soalnya sebagai anak milenial pengagum mecin daku menganut paham 'datang, kerjakan, lupakan' wkwk. Nggak ding, pemikiran itu seharusnya jangan dijadikan panutan yee. Alhasil daku kembali ditolak STPN yang notabene juga jadi kampus idaman, tapi apa daya 'kamu terlalu baik untuk aku' (wahahah, nggak ding) tapi karena usaha memang tak pernah mengkhianati hasil.

Sampai pada titik diriku berjuang mati-matian, dengan segenap jiwa dan raga untuk tembus lewat UTUL satu, nggak banyak yang diriku inginkan tapi sampai rela mengorbankan impian untuk masuk UGM jurusan KPJ (Kartografi dan Penginderaan Jauh) ditukar dengan pilihan pertama PJSIG (lah nggak usah dijabarin yak, panjang banget dah namanya ini wkwk Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi) yang memang tidak terlalu jauh dengan KPJ. Itu beneran sudah jadi titik di mana daku ngerasa jadi orang yang dulunya optimis gila sekarang jadi orang yang pesimis buanget! Singkat cerita tes UTUL diriku didampingi oleh keluarga besar (ibu, bapak, dan kakak), suasana tes UTUL itu emang beda banget, biasanya setelah masuk ruang ujian terus liat soal nggak banyak yang bisa daku kerjain, baca artikel bahasa Inggris kadang sambil males-malesan, tapi atmosfer tes UTUL yang diriku rasain itu kali ini beda, apa mungkin ada dorongan dan dukungan dari keluarga ya? Apalagi keluarga besar kita besok (Uwuwu idiiih), diriku skip aja yee beberapa bagian, ntar dikirain kebanyakan ngomong kaya komentator bola (hwehehehe). Tiba saatnya pengumuman UTUL dan alhamdulillah diriku diterima di pilihan pertama yaitu PJSIG. Rasa senang dan haru saat itu campur aduk, mungkin besok kalian bakal ngerasain hal kaya gini di mana kalian pengen nangis tapi satu sisi kalian bahagia banget. Dan di sinilah fase mengambang atau masa mengambang diriku anggap selesai.

Masuk ke fase kuliah, setelah PPSMB (Hari ini ku awali hari uwuwu~~~ *anthem PPSMB yu ji em) selesai kegiatan kuliah udah dimulai, nggak ada tuh yang namanya salam-salaman sekalian modus kaya jaman SMA (wkwkw :v). Jadi anak kuliahan yang daku rasain pertama kali itu emejing banget, repot, ruwet, mumet, dan lalalala lainnya. Jadi anak kuliahan itu bukan lagi anak SMA yang ganti seragam putih abu jadi seragam bebas (wkwkwk :v), kenapa diriku bilang ruwet, mumet, dan lalalala? Itu karena perlengkapan untuk kuliah itu cukup banyak, kaya ngurus KTMlah, ngurus PALAWA (akun mahasiswa UGM yang biasa untuk ngecek IPK dsb, nggak tahu kalau di kampus lain namanya apa), ngurus pindahan kost, terus kadang riweh sendiri mikirin seragam. Jangan dikira kuliah seragam bebas jadi sante aja, daku malah kadang mikir 'n*ir baju ku kok cuma ini aje?' atau mikirin 'kok kaya gembel ya?' beneran dah segitu mumetnya mikirin baju, belum kelar mikirin baju malah ketambah 'besok pake sepatu apa?' kalau boleh nyendal swall*w sih kagak masalah ye, apalah daya diriku yang hanya kaum misqueen lebih nyaman bersendal ria.

Belum banyak yang bisa diriku ceritain, maklum masih noob banget jadi anak kuliahan, apalagi diriku ini yang baru menginjak semester 1. Intinya kehidupan kuliah daku dipenuhi dengan laprak, laprak, laprak, ujian, responsi, ujian, PALAWA, terus PALAWAR (wkwkwkkw :v). Laprak itu singkatan dari Laporan Pratikum, berhubungan diriku anak vokasi (uyeeee) atau D3 jadi pembelajarannya itu 60% praktik dan 40% teori. Awal-awal ngerjain laprak itu bikin stess, setiap hari diriku hampir begadang, jam tidur emang jadi berantakan dan pernah seharian diriku nggak tidur demi satu laprak yang waktu itu emang masih awal banget jadi belum tahu konsepnya secara mendalam, selain jam tidur yang berantakan pola makan juga jadi nggak teratur, lebih sering makan mie, makan tengah malam, minum kopi biar melek, ini niatnya buat ngerjain laprak malah laprak yang ngerjain diriku (huhuhu, receh amat dah). Sampai-sampai kejadian bergelud dengan laprak ini membuat daku jadi orang yang jarang banget buka chat dari beberapa teman yang nanyain kabar, jadinya banyak chat yang tenggelam dalam lautan luka dalam (hmmmmm) sampai dibilang diriku ini jadi orang sok sibuk, sampai nggak sempet bales WA padahal online. Eh, asgdhkfirheyphfyhnsg (mau ngomong kasar kagak jadi) daku tidur aja kadang susah gimana diriku mau bales chat, huhuhu beneran sampe kepikiran mau bilang kaya gitu. Tapi emang pemahaman setiap orang nggak bisa dipukul rata buat ngertiin kita, ada juga yang nggak bisa ngertiin yang daku lakuin cukup tutup telinga terus bahagiain diri sendiri.

Sampai diriku udah bisa menyesuaikan dengan jadwal dan cara jitu kebut semalam laprak diriku sudah mulai berdamai dengan yang namanya jam tidur, istirahat, dan makan. Tapi siklus yang namanya repot karena laprak bakalan keulang lagi menjelang responsi, wakakakaka. Responsi itu semacam ujian pratikum, yang cara pengujiannya itu bisa secara tertulis, praktik langsung sampai ujian lisan oleh kakak asisten praktikum, mantap nggak tuh? Jadi diriku malah sering ngeblank kalau ujian lisan, baru aja tatap matanya asisten praktikum, eh isi otak udah pada kabur mencar minta dijajanin mecin. Responsi ini juga menguji keberuntungan di dalam diri, bisa aja tuh dapet soal yang lumayan susah, gampang, sampe susah buanget (tapi diriku yakin kalau dosen dan asisten praktikum pasti udah punya perhitungan sendiri untuk setiap soal). Kehidupan kuliah diriku nggak beda jauh sama kehidupan jamannya SMA, di mana pas kelas malah tidur, ngobrol, atau bahkan diriku pernah nonton final bulutangkis ASEAN GAMES 2018 di dalam kelas pas dosennya lagi ngajar (wkwkwk, duh jangan ditiru dah!) kalau nggak salah waktu itu yang main dipartai final itu Jojo, tapi yang beda dari kehidupan SMA adalah diriku sewaktu kuliah ini beneran jadi mahasiswi kula-kula (kuliah laprak-kuliah laprak :D) diriku sama sekali nggak ikutan UKM yang ada di UGM, nggak daftar jadi pengurus organisasi manapun (fakultas, jurusan maupun organisasi daerah). Diriku punya alasan sendiri sih kenapa milih untuk tidak terlibat dalam kegiatan apapun. Tapi sejauh ini menurut dakukuliah itu menyenangkan, tergantung dari pribadi masing-masing menyikapi dan menjalaninya (tsaaahh).

Teruntuk kalian,
Tidak menjadi salah satu manusia beruntung atas SNMPTN itu bukan suatu kesalahan,
Tidak lolos SBMPTN bukan juga sebagai sebuah permasalahan,
Atau tidak berkesempatan untuk mencoba mendaftar di kedinasan dan segala jalur tes masuk perguruan tinggi bukan sebuah akhir dari masa depan.

Teruntuk kalian,
Lolos kuota SNMPTN bukan malah kamu jadikan bahan sombongan, disebar luaskan supaya rekan-rekan mengagungkan, bahagia boleh, tapi tidak untuk menjadi manusia gila kehormatan.

Jika merasa gagal cobalah melihat diri, perbaiki apa yang perlu diperbaiki, singkirkan apa yang perlu dihilangkan.

Kalian boleh saja menangis, merasa takut, galau, atau perasaan lainnya yang tak bisa diucapkan. Tak apa, yang namanya manusia memang pantas untuk merasakannya bukan?

Jalan masih panjang, tak perlu berlari cepat untuk sampai tujuan, tapi tak juga berjalan dengan lambat. Cukup berjalan dengan porsi dan kemampuan kalian masing-masing, tak perlu di tambah-tambahkan apalagi dikurangkan.

Udahan dulu dah, beneran ini udah enam lembar, ampe tangan keriting ngetik di hp. Tujuan nulis ini sih bukan untuk sok menggurui apalagi berlagak menjadi paling pinter, tapi tujuan diriku nulis ini adalah untuk jadi pelajaran khususnya untuk anak kelas 12 atau teman-teman yang berjuang kembali supaya lebih menghargai waktu, dan tujuan awal kalian.

Semoga banyak yang termotivasi, jika banyak kesalahan dari daku mohon dimaafkan.
Salam hangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan

Maybe Someday

LOVE Of STADIUM