Kado Terakhir Ibu

Deru pendingin ruangan sungguh sama sekali tak bisa memecah konsentrasiku, pena merah marun, vas bunga dengan ukiran khas Jepara berdiam diri ditempat, seolah asyik memperhatikan kesibukanku. Ruangan ini kosong, sepi dan nyaman. Aku sengaja desain sesuai dengan kesenanganku, sofa coklat pekat aku letakan menghadap jendela, pemandangan lalu lintas akan terlihat di sana, jam dinding berbentuk persegi panjang dan juga beberapa lukisan dan kata-kata motivasi sengaja aku pajang di dinding dengan cat cream.

Ketukan pintu kaca membuat aku mengalihkan pandangan dari laptop, menilik sejenak siapa diluar? Ah, dia bawahanku. Dimas.

“Ada apa mas?” tanyaku santai

“Anu pak..” ucapnya terhenti, menatap aku ragu-ragu “ibu..”

“Ibu kenapa mas?”

“Ibu sudah ndak ada.” Suara bulat Dimas bergetar, membuat aku harus kembali mencerna apa yang barusan ia ucapkan. 

Percuma, pandanganku kosong. Aku pikir tadi ia hanya bercanda, sekedar bergurau ulang tahun atau tentang kenaikan pangkatku. Tapi ia sungguhan. Bahkan tak ada raut bercanda di wajahnya.

Rasanya hari ini waktu akan berjalan lebih lambat dari biasanya.
***
Flashback On

Tas merahku aku lempar begitu saja ke sofa ruang tamu, melepas sepatu dan meletakannya sembarangan, membuang dasi sambil sesekali memegangi pelipis kiriku yang memar.

“IBU!” pangilku tak sabar, mendorong pintu kamar beliau sembarangan, tetapi tak kudapati sosoknya disana, hanya ada sebuah sajadah merah dan sebuah rukuh dilantai. Kamar ibu selalu rapih, barang-barang tertata di tempatnya dan beberapa barang-barang kosmetik ibu juga berjajar di atas meja rias.

“IBU!” panggilku untuk yang kedua kalinya, kali ini lebih keras. Dan aku jeda tetangga sebelah, pak Darso pasti mendengarnya. Tetangga satu itu selalu ribut jika aku berteriak kencang.

“Ada apa to le? Baru pulang kok sudah marah-marah.” Ucap beliau, lengkap dengan daster bunga-bunga kebanggannya, celemek pudar berwarna kuning dan aroma bawang goreng. Aku yakin ibu menghabiskan waktunya di dapur. Bermain dengan beberapa bumbu masakan, minyak goreng dan juga sabun cuci piring.

“Rian berantam lagi?” tanya beliau penuh selidik.

“Aku lapar bu, bukan mau di wawancarai begitu.” Jawabku ketus, melirik meja makan yang berada di belakang tubuh ibu, ada dua potong ikan lele, lengkap dengan sambal kacang dan nasi yang masih mengepul. Pecel lele, makanan kesukaanku.

“Kapan kamu mau berhenti berantam? Mau sampai kapan ibu di panggil ke sekolah terus?”

“Bu, anak cowok ya sukanya berantem. Lebih keren!” aku menjawab malas, melewati tubuh ibu. Rasanya makanan itu sudah memanggilku sedari tadi.

“Berantam karena apa?”

“Rima. Cewek Rian bu. Aldo mau rebut Rima dari Rian.” Ujarku sombong, mengeduk nasi ke piring berwarna hijau, piring hadiah dari salah satu bumbu dapur.

“Cewek nggak suka di perlakukan seperti itu Rian. Lagian mereka di ciptakan bukan untuk diperebutkan. Tapi di lindungi.” Ibu menceramahi, macam tahu saja masalah anak muda.

Aku memilih diam saja, daripada nanti selera makanku hilang. Ibu menghela nafasnya pelan, lalu melanjutkan acaranya di dapur. Mengolah sambal tomat pesanan tetangga.

Hingga suatu pagi, di hari minggu. Ada kotak kado dengan bungkus yang tak terlalu rapih diletakan di dekat meja belajarku. Entah itu dari siapa, yang jelas cara membungkusnya sungguh tak enak di pandang. Setelah membukanya dengan tidak sabaran, sebuah kemeja warna biru langit dari merk terkenal membuat kedua bola mataku membulat sempurna. Baju ini perlu menabung berbulan-bulan, dan ini diberikan entah dari siapa. Ibu? Tak mungkin! Beliau akan selalu menceramahiku jika membeli baju semahal ini. 

Flashback Off
***
Aku termangu memandang beberapa tamu yang datang, semuanya serba memakai hitam, kaca mata hitam, baju hitam, kerudung hitam, membuat mataku sakit. Perih dan perlahan meneteskan air mata.

Semuanya menyalamiku, mengucapkan turut berduka cita, lalu meminta tegar. Aku akan tegar sekarang. Tapi entah esok hari seperti apa.

Pak Darso, tetangga sebelah rumah itu berjalan lambat ke arahku. Tatapannya sendu, tak semenyeramkan sewaktu sepuluh tahun yang lalu, rambutnya sudah memutih sempurna. Sejak kepindahanku ke kota, sudah lama sekali rasanya aku tak bertegur sapa dengan beliau. Beliau lalu memelukku tanpa meminta persetujuan, aku balas pelukan ganjil itu, memendam sejuta pertanyaan di dalam hati. Ada apa beliau? Dulu yang suka marah-marah padaku, sekarang jadi begini. Nafasnya menderu tak teratur, lalu air matanya tumpah, menyusuri pipi tuanya yang sudah berkeriput. Aku meneguk ludah pelan. Kerongkonganku jadi rasanya amat kering.

“Saya baik-baik saja pak.” Ucapku pelan, nyaris tak terdengar malah.

“Tidak ada yang baik-baik saja jika ditinggal orang kesayangannya nak.” Pak Darso berkata dengan tatapan penuh berkaca-kaca, memeluku tambah erat dari sebelumnya.

Beliau benar. Tak ada orang yang baik-baik saja saat ditinggal orang yang di sayangnya.
***
Flashback On

Entah karena kutukan dari ibu beberapa tahun lalu, atau sedang sial. Setelah putus dari Rima tak ada wanita yang mau ku jadikan pacar. Aku berharap ibu benar-benar tak melangsungkan sumpah waktu dulu. Hari ini aku sudah tambah dewasa, merantau dengan satatus mahasiswa di sebuah universitas ternama. Berela-rela meninggalkan rumah, dan kawan-kawan di kampung.

“Rian jangan lupa untuk makan nak. Istirahat yang cukup dan jangan pernah lupa solat dan selalu berangkat kuliah.” Itu pesan ibu dari kampong lewat telepon genggam versi jadul yang beliau beli sendiri. Aku mengangguk kesal, sudah kesepuluh kalinya ibu berucap seperti ini, seperti radio rusak!

Kawan-kawanku bilang aku masih anak mama, masih terus di pantau walau sudah jauh dari rumah. Aku sebal! Dan setiap panggilan dari ibu tak pernah aku jawab, aku biarkan saja hingga panggilan itu mati sendiri. Setidaknya jangan buat Rian malu di depan teman-teman Rian bu!

Beberapa bulan yang lalu, ada kiriman paket dari kampung. Dari ibu, itu alamat yang tertulis di depan paketan. Aku membukanya dengan tidak sabaran, siapa tahu ibu mengirimkan aku sebuah baju atau sepatu baru. Tapi isinya bahan-bahan sembako, ada teh, gula, beras, kering tempe buatan ibu dan sebuah roti kampung yang terbuat dari santan kelapa, khas buatan ibu saat lebaran datang.

“Kamu mau buat jualan ya yan?” celoteh Bagas, kasan kosku yang menyaksikan isi paketanku. Aku mendengus kesal, lalu masuk kekamar tanpa menjawab pertanyaanya.

“Paketannya sudah sampai yan?” tanya ibu saat panggilan telepon tersambung.

“Ibu Rian tidak butuh bahan makanan bu!” ucapku malas.

“Itu untuk kamu berhemat yan. Kamu bisa pakai uangmu yang seharusnya untuk jajan untuk dibelikan keperluan yang lain. Di kampung sawah ibu lagi panen, banyak sekali. Walau banyak burung-burung kecil yang ikut menikmatinya, ibu bisa membelikan kamu……”

“Ibu?! Rian butuh uang!” uacapku kesal, memotong perkataan ibu dengan kasar, di sebrang sana ada helaan nafas tertahan. 

“Maafin ibu yoo, yan.” Ucap beliau dengan nada suara yang bergetar. Aku memutuskan untuk menutup telepon sepihak. Membanting telepon genggam ke sisi ranjang, lalu menghempaskan tubuh, memandang langit-langit kamar yang di penuhi sarang laba-laba.

Dua tahun setelah kejadian itu, sebuah paketan datang. Tanpa nama dan alamat. Dibungkus dengan begitu dekil, tak rapih. Macam anak TK yang belajar melipat. Isinya membuat aku bersorak kegirangan, sepatu hitam dari kulit dan setelan jas hitam untuk wisuda. Karena satu bulan lagi aku akan mempertanggung jawabkan tugas akhirku.

Serasi sekali. Aku tambah gagah jika seperti ini. Tapi bagaimana dengan ibu? Bajunya sama sekali tak ada yang pantas untuk hadir di wisudaku.

Flashback Off
***


Kursi di halaman rumah hampir penuh semuanya, beberapa kerabat ibu dan juga almarhum ayah juga hadir, tatapan mereka semua sendu. Aku duduk di sudut ruangan, menepi dari beberapa tamu yang mau melayat.

“Aku ada cerita pendek untukmu nak.” Ucap pak Darso tersenyum kebapakan, “ada rahasia kecil yang di sembunyikan Aminah dari engkau.” Pak Darso mulai bercerita tentang ibu.

 Cerita tertutup yang sama sekali tak pernah aku dengar.

Sebuah kotak kado yang tak dibungkus dengan rapih, dengan kertas kado berwarna merah marun, membuat aku teringat tentang kado-kado dengan pembungkus super jelek yang sama sekali tak aku ketahui siapa pengirimnya. Tanganku bergetar mengambilnya, membukanya dengan perlahan. Dan mendapati tumpukan surat-surat dari beberapa kertas yang berbeda.

-Ibu harap kamu mau memakai kemeja ini Rian. Walaupun ibu harus menjual beberapa ayam jantan kita di kandang. Agar kau bisa bergaya di depan kawan-kawanmu.-

-Ibu tidak tahu kau membutuhkan sembako ini atau tidak. Ibu hanya bisa mengirimkan ini. Kue lebaran kesukaan ayah kau Rian.-

-Ibu sudah tak sabaran ingin meliaht engkau mengenakan ini, jas hitam ini akan sangat pantas di badan engkau. Ibu hanya punya setelan batik Jawa yang sudah tua untuk hadir di wisudamu. Semoga engkau tak pernah malu dengan hadirnya ibumu.-

Aku menghentikan kesibukanku membaca tumpukan surat-surat dari ibu, surat-surat yang tak akan pernah sampai, surat-surat yag tak pernah ingin ibu kirimkan kepadaku. Ada surat terakhir, dibungkus rapih dengan amplop berwarna putih. Aku membukanya ragu, sambil sesekali menatap pak Darso yang menyeka ujung matanya.

-Rian, ibumu ini tak akan pernah mundur demi kau. Kau ingat saat dirimu di nakali kakak kelasmu sewaktu SD? Ibu datangi ibu mereka, memarahi mereka tanpa ampun. Agar kau sekolah dengan tenang. Mungkin kau akan bertanya-tanya, mengapa surat-surat ini tak akan pernah sampai? Itu karena ibu terlalu malu, ibu tak bisa menulis dengan benar, tulisan ceker ayam ini mungkin hanya akan membuatmu malu. Mengapa juga setiap ibu mengirimkan mu kado tak pernah terbungkus dengan rapih, itu karena ibu tak pernah belajar melipat dengan benar. Ibu tak lulus sekolah dasar nak, jadi ibu memilih mengirmkannya tanpa nama, agar kelak kau tak malu karena ibumu yang tak tahu apa-apa ini. Kamu mungkin bertanya, apa kado terakhir ibu untukmu? Ibu hanya bisa memberikan surat tulis ceker ayam ini kepadamu, dan juga sejuta permintaan maaf karena sering membuatmu malu. Tertanda, ibumu. Aminah.-

***
Pematang jalan di perkuburan umum lengang. Hanya ada aku berdiri dengan kaku, tepat dipusara ibu yang baru beberapa menit yang lalu di kebumikan.

“Ibu, ini anakmu. Telah pulang, pulang dengan sejuta penyesalan yang membuncah.”

Kebumen, 22 Agustus 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan

Maybe Someday

LOVE Of STADIUM