Paham.
Sore itu,dibawah naungan langit yang mulai meremang,meninggalkaan padang untuk malam.Matahari mulai menetralisir sinarnya,kembali keperaduannya dengan waktu yang menunjukkan pukul lima sore.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Entahlah..seperti jangkar kapal pesiar,atau pesawat jet dengan kecepatan super"ucapku terkekeh,memilih mengaduk pelan kopi dicangkir putih menawan milik restoran.Membenarkan letak kaca mata dan kembali melihat sosok didepan,tersenyum..itu saja,berulang kali dilakukan.
"Mau ditambah kopinya?"tanya pelayan restoran ramah,aku menggeleng cepat,tak ingin kafein itu menguasai tubuhku.
"Lalu?"tanyanya lagi,lengkap dengan wajah seribu tanda keingin tauannya pada hal baru,atau bisa juga ingin tau pada urusan orang
"Mmmm...cinta itu seperti kopi...yang enak diminum selagi panas..namun,resikonya cepat habis.Tapi kalo diminum pelan-pelan,kopinya awet..tapi resikonya keburu dingin"
"Yah tergantung,gimana orang yang menyikapinya.."
"Lalu...bagaimana dengan cinta beda agama?"
Tak ada jawaban yang pasti terdengar,hanya dentingan jarum jam dan juga suara desisan pelan kopi yang mulai mendidih diatas panci untuk dipanaskan,disedu dengan serbuk-serbuk hitam kecil plus gula dan juga sedikit susu kental manis,nampak nikmat dipandang dan juga untuk dicicipi.Jalanan kota Surabaya begitu lenggang,orang yang berlalu lalang memilih untuk masuk kedalam surau,mengambil wudhu lalu menempelkan jidat disajadah panjang,memohon pada pengatur alam,apa saja unek-uneknya.Atau para pelancong yang nampak kelelahan dengan kamera apik ditangan dan sebuah salib menggantung di leher putihnya.
...
Malam itu,semilir angin berhembus hingga menusuk sum-sum tulang.Menggigit disetiap desiran angin yang berlalu-lalang.Minggalkan senyap pukul delapan malam dikampus ternama di kota Surabaya.Dibawah dinding kokoh yang kini aku duduki,pelita penerang di mana-mana dan gemericik air terjatuh dari wadah seperti kendil milik orang Jawa.
"Huffttt..."kesalku,menyeka ujung mata dan begitu menyesal,aku butuh seperkian detik untuk menyendiri "kenapa seperti ini?Tidak adill!!!!" marahku berbisik pelan,menangis sejadi-jadinya diemperan mushola kampus,meratapi hidup seorang diri
"Assalamu'alaikum"ucap seseorang begitu halus dan menyejukkan pendengaran,begitu ikhlas dari seribu kata-kata yang seharian aku dengar,begitu natural dari kata bijak yang sehari ini aku perhatikan.Aku mendongakkan kepala,menatap malas sosok didepan yang telah mendendangkan syair terindah yang pernah aku dengar.Air mata masih saja berjatuhan satu demi satu,wajahku yang lelah seharian menambah tampilan malam itu begitu menyedihkan.
"Ini..."ucapnya menododongkan sapu tangan lembut berwarna biru tua,dibordir bagian tepinya dengan benang berwarna merah tua,lalu terduduk didekatku,persisnya beberapa meter jauh disana,tersenyum,seperti menjaga jarak.
"Terimakasih.."ucapku pelan,menghapus air mata dan kembali menunduk
"Oh iya,kenapa tadi tidak membalas salam ku?"tanyanya ramah dengan nada suara yang begitu bijaksana
Aku tak menjawab,malas berfikir keras.Jelas saja aku terlalu lelah untuk hari ini,bagaimana tidak?seharian dengan berbagai macam masalah.Pertama,semua tugas-tugas dari dosen yang diberikan seminggu lalu,raib mengesalkan dan tak bersisa.Semua file-file itu hilang,gagal dipresentasikan dan gagal mendapat nilai.Ya..laptop milikku hilang dijarah oleh orang yang sangat menyebalkan,maling!Kedua dengan tidak mendapatkan nilai dimata kuliah itu,tentu saja,aku harus mengulangnya dari pertama.Ketiga,uang bulananku mulai menipis,tak ada lagi kiriman dari keluarga,karena posisi keluargaku juga sedang terjepit,menyekolahkan adikku yang baru masuk SMA,semuanya jadi terbatas,terlebih bapak yang sedang sakit,menambah beban pikiranku diperantauan.Ini sangat menyebalkan!
Aku biarkan rambutku yang tergerai tertiup angin,menjelajah semua relung hati yang sedang kesal
"Saya duluan ya"ucapnya,memilih meninggalkan surau dan menghilang dibalik terpaan angin malam,aku hanya mengangkat wajah sebentar melihat punggung tubuhnya yang menghilang,lalu kembali meringkuk,meratapi kesialan dan mengomeli diri sendiri.
"Eh.."ucapku yang tersadar,ia melupakan sapu tangannya
Aroma wangi yang melekat khas pada sapu tangan tersebut membawa relasi ketenangan sejenak,aroma khas lelaki yang bijaksana,yang mempunyai hati paling tulus setulus semua orang yang kukenali dinegeri ini.
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh,kampus terlihat sepi.Aku harus pulang...
Jalanan kota Surabaya lenggang,kota si dua hewan air yang saling bertentangan,kota di mana aku memulai sebuah kehidupan,mulai mengartikan atau lebih tepatnya mengeja arti kemandirian.Aku berjalan lelah,menyusuri gang sempit,mendengar dengkuran sang pemilik rumah,suara tv,nyanyian indah tanda bermimpi,itu saja,memilih masuk rumah sewaan,yang ganggang pintunya sering membandel,macet tak terperi,kalau sudah begitu,sebuah paksaan dengan dongkrak.Detik itu juga,aku kembali berteriak 'Kenapa Tuhan tidak adil!'kesalku,mengingat Tuhan Yesus.Tetapi sapu tangan dengan aroma kebijaksanaan kembali membawaku kedalam aliran ketenangan,entah apa yang lelaki itu pakai,yang jelas aromanya begitu menyejukkan.Dan malam itu juga aku memilih terlelap,dibalik ringkihnya perasaan hati,memilih berlindung dibawah kalung bersalip,satu-satunya benda berharga yang kumiliki.
...
"Eh..hei!"
"Assalamu'alaikum"ucapnya ramah,aku memutuskan untuk menemuinya disurau dekat kampus,tepat pada jam yang sama seperti kemarin.
"Ini..sapu tanganmu,aku sudah mencucinya,tetapi aroma minyak wangimu tidak pernah hilang"ucapku tersenyum,menodongkan sapu tangannya
"Bukankah tadi aku mengucapkan salam?"ucapnya tersenyum,aku baru sadar,ia mempunyai lensung pipit dikedua pipinya,ini menambah aksen ketampanannya
"Aku seorang kristiani.."
"Oh maafkan saya,ah bawa saja sapu tangan ini...buatmu"
"Eh..."ucapku bingung,memilih tersenyum "Danilla.."ucapku lagi,memperkenalkan diri,memberikan uluran tangan dan tersenyum,sesungguhnya aku mulai jatuh hati padanya
"Saya Ikhsan..."ucapnya ramah,hanya mengangguk dan tak menerima uluran tangan.Ia adalah muslim yang taat,aku hanya tersipu malu,menarik kembali tanganku dan memilih duduk diemperan surau.
"Kuliah disini juga?Jurusan apa?"tanyaku
"Arsitek.."jawabnya singkat "oh...mmm,apa yang kamu lakukan setiap malam disurau ini?Mencari inspirasi untuk gambar bangunanmu?"tanyaku lagi,bakat wartawanku mulai timbul
"Mencari inspirasi,meminta perlindungan,memohon ampun dan menyandarkan hati dari keseharian"jawabnya ramah,dengan suara nan bijaksana "Danilla...seorang kristiani yang taat"tebaknya
Aku hanya mengangguk "oh iya,sebenarnya apa yang biasa kamu dan teman-teman muslimmu kenakan?Seperti dikepalamu itu?"tanyaku malu-malu,menunjukkan sebuah benda seperti topi
"Ah ini...ini namanya peci..."ucapnya mengambil peci hitam itu dari kepalanya dan ia letakkan dikepalaku "jika pria mengenakan ini,kalau seorang muslimah menggunakan hijab,menutup aurat yang harus ia jaga"ucapnya tersenyum
"Oh...ini sangat luar biasa"pujiku tersenyum
Kami akhirnya menyelesaikan malam dengan saling bertukar pikiran,mengobrol tak menentu,namun terdengar asyik dan sayang untuk diakhiri.Dan mulai malam itu juga,hatiku menyemai benih cinta,aku jatuh hati pada sebuah hati paling tulus setulus-tulusnya,ia ikhsan.
...
"Bagaimana?"ucapku berseru senang
"Nampak lebih cantik,dari Danilla yang dua hari lalu aku kenal"ucapnya,matanya begitu berbinar.Namun kembali memejamkan mata,menunduk dan menyebut 'Allah' dalam bisikannya "berhijab itu bukan hanya menutup kepala,namun berhijab itu juga melindungi hatinya"
"Salahkah seorang kristiani berhijab?"
"Tidak...hanya saja,apa yang agamaku ajarkan tidak bisa mengubah aku mengikuti agamamu,begitu juga apa yang agamamu ajarkan tidak bisa mengubah kamu mengikuti agamaku,itu semua urusan hati.."
"Aku tidak pernah memindah paham agamaku,aku hanya belajar sedikit tentang islam"ucapku tersenyum,lalu kami berpisah dicabang jalan,ia memilih masuk suraunya,dan aku dengan menggenggam erat kitab injilku melangkah mantap menuju gereja.
Namun hari itu juga,semai itu mulai tumbuh,bukan karena cinta..namun karena sebuah pemahaman.Aku sang kristiani yang taat jatuh hati pada Ikhsan sang muslim yang taat.Cinta tidak mengubah apa yang jadi pemahaman kita,namun cinta mengajarkan kita,bagaimana kita sama-sama untuk memahami apa yang ada dihati kita.
...
"Jadi gimana Ris?"tanyaku setelah meneguk gelas terakhir kopi yang sedari tadi diatas meja
"Kita selalu punya pilihan dalam hidup,dan aku tau kau pasti bisa memilih yang paling baik"ucap Riska,memilih meninggalkan meja dan membayar bill.Tubuhnya hilang dibalik ramainya orang berlalu lalang.
"Assalamu'alaikum"ucap seseorang,suara merdu,suara paling ikhlas yang selalu ada diindera pendengaranku
"San..ayo beribadah.."ucapku tersenyum,menunjuk sebuah masjid dan gereja yang bersebrangan tepat didepan caffe "wahai pemuda hati yang paling tulus."Ia,Ikhsan tersenyum.
Komentar
Posting Komentar