Rindu Semu
Dentingan air keran yang
menetes satu persatu dengan hitungan seperkian menit menambah kesunyian
tersendiri,dentingan jarum jam yang menunjukkan pukul sebelas malam waktu
setempat,entah kenapa matanya tak mau menutup setelah seharian beraktivitas,pikirannya
terus menerawang jauh entah kemana,melayang bersama masa-masa di mana sebuah
kebahagiaan,masa di mana semuanya terlihat jelas,tak semu dan tak jua akan
menghilang.Ingar bingar yang sangat ia rindukan,dukungan supporter yang nampak
tak lelah dan juga bermain tanpa ada rasa khawatir,’kemana setelah ini..?’
“Kamu nggak tidur Van?Udah jam sebelas lho…”ucap Yama
mengingatkan
Tak ada jawaban yang
terdengar,hanya dengusan pelan.Seperti bukan Evan empat tahun lalu yang ia
kenal
“Kamu kenapa Van?”tanya Yama untuk yang kedua kalinya
“Nggak papa Yam..”ucap Evan lirih,tak bergairah menjawab
pertanyaan kawan karibnya
Yama terdiam,membuka horden
hotel yang menjadi pembatas pemandangan luar dengan kamar mereka berdua,disana
kerlap kerlip lampu menghiasi kota Singapura,kesibukan malam negeri orang.
“Yam..kamu pernah mikir nggak,selama ini massa yang kita
jalani itu kayak sia-sia gitu…”ucap Evan bertanya lirih,entah kenapa lidahnya
kelu untuk bertanya
Yama terdiam,memandangi
wajah kawannya dari dekat jendela “memangnya kenapa?Kamu menyesal dan takut
sama sanksi FIFA?”
Evan mengangguk,kembali
menelusuri relung hatinya,tujuan utama ia bermain sepak bola,tujuan pertama ia
terjun di dunia sepak bola dan tujuan utama ia kenakan jersey merah putih “kita
layaknya mengalahkan negara orang,tapi kita dikalahkan negara sendiri”
“Jujur Van…aku juga lagi bingung dengan kedepannya..”
Evan tersenyum.Melihat
jersey merah putih yang sedang tergantung indah dibalik pintu kayu hotel “hanya
demi ini kita bertahan disini?!Serasa kayak orang bodoh didunia..!”gertak Evan
tak bisa membendung emosinya,membuka paksa pintu kayu dan menutupnya dengan
keras,meninggalkan Yama yang terdiam kaku tak percaya.Mungkin Evan butuh waktu
untuk menenangkan dirinya.
Lobi Hotel
“Eh Van lagi apa disini?Nggak tidur?Besok kita tanding
lho..”ucap Teguh Amirudin yang beranjak dari tempat duduknya hendak kembali
kekamar
“Bentar lagi mas…”ucap Evan sopan,wajahnya nampak murung
“Kamu kenapa Van?”
“Nggak papa mas..lagi nyari angin..”dusta Evan menggembangkan
senyumnya
“Ya udah saya keatas dulu ya..”pamit Teguh tersenyum.
Evan mengangguk,melihat
punggung kipper timnya,bukan lagi Ravi Murdianto yang perlahan menghilang.Ia
butuh menenangkan hatinya sejenak
“Bu…Evan kangen rumah,kangen sama bapak sama ibu
dirumah.Kangen sama adik-adik.Coach Indra apa yang harus saya lakukan?Saya
kangen sama semuanya coach…gemuruh yang mengelukan nama kami…coach Indra
baik-baik saja kan?”ucap Evan pelan menatap kosong kedepan,tak ia sadari Ilham
yang melihat dirinya menitihkan air matanya,tak bisa menahan air matanya dengan
kata-kata yang barusan Evan ucapkan
“Semuanya jadi kayak mengambang..tidak jelas untuk
kedepannya”ucap Evan lagi
Stadion Singapura
INDONESIA VS MYANMAR
“Hiduplah Indonesia raya….”ucap Evan terisak,alunan lagu
Indonesia raya membuat telinganya mengingat massa yang membesarkannya,lagu
terindah yang pernah ia dengar.Air matanya satu persatu menetes,sosok
disebelahnya juga tak bisa membendung cairan putih itu..membiarkannya
terjatuh,membasahi pipi mereka.
“Mungkin ini lagu Indonesia terakhir yang akan
berkumandan di Internasional,di padang rumput dengan balutan tribun
penonton”ucap Adam Alis berbisik ditelinga Evan,giginya bergemeletak menahan
sesak,tangannya mencengkram lambang garuda didadanya.Ia akan berjanji,lakukan
apa saja yang ia bisa.
Sembilan puluh menit waktu
berjalan,mereka harus menelan pil pahit untuk pertandingan pertama.Imbas dari
kekalutan masalah yang sedang diujung tanduk.Didalam ruang ganti,hanya deru
nafas emosi tertahan terdengar jelas,suasana dingin yang belum pernah
terasa.Hanya suara air keran dari wastafel yang jatuh satu persatu
“Kalian main hebat sekali hari ini…sungguh.Walau hasil
yang didapatkan tak sesuai,kalian adalah tim terhebat yang pernah ku
dapatkan.Mau Real Madrid..Barca..Juventuspun..tak ada yang sebaik kalian..”ucap
Dani membesarkan hati teman-temannya.
“Van kamu hebat tadi mainnya”ucap Paulo,yang sudah tau
apa yang sedang Evan rasakan,Ilham telah menceritakannya semalam
“Aku tidak sehebat yang kamu pikirkan…”ucap Evan minder
“Eh…aku pernah kenal sama seseorang…dia itu pemain yang
sangggggaaattt hebat.Kamu tahu?Dia menciptakan Hatrick yang sangat
memukau.Buuum..!Bagaikan bom atom mengguncang negerinya,membuat semua orang
mengelu-elukan namanya…”ucap Yama bercerita sedikit,membuat kesebelasan itu
memperhatikan dengan seksama cerita Yama
“Lalu apa hubungannya dengan ku?”Tanya Evan
“Dia seorang kapten yang hebat!Jenius!dan juga
religious…menciptakan belasan gol indah untuk Tim nasional negara yang ia bela…”
“Lalu apa yang selanjutnya Yam?”tanya Muchlis juga
penasaran
“Dia terus mengasah skill yang ia miliki,terus maju..maju
dan maju..tak ada kata mundur sekalipun di kamus hidupnya.Namun…”
“Namun apa Yam?”tanya Indra
“Ia seperti kehilangan semangat hidupnya..permainannya
bagaikan sayur tanpa garam,serasa begitu hambar….ia kini bukan lagi seorang
kapten…gelandang posisinya..nomor punggungnya enam,namanya Evan Dimas
Darmono…”ucap Yama berbisik “aku merindukan sosok mu yang dulu,yang penuh
semangat menendang bola dikakimu…ini..kakimu ini..”ucap Yama menunjuk kaki Evan
yang masih dibalut sepatu bola “kamu…kamu kenapa Van?”tanya Yama,semua kawannya
terdiam.Memilih menjadi patung sesaat
“Aku merindukan sosok supporter dahulu…yang tak kenal
kami menang atau kalah.Tak kenal nama kami bukan Garuda Jaya lagi..aku merindukan
gemuruh supporter menyanyikan Indonesia Raya bersama,dirumah,stadion atau
dimanapun..aku merindukan sosok dulu..”ucap Evan terisak
“Setidaknya Van…semangat mu itu..yang akan membangkitkan
mereka semua”ucap Ilham tersenyum,sebagai kawan lama ia pasti tahu apa yang
sedang Evan rasakan.
Tiiiiitttt…suara handphone
Yama berdering,sebuah sms masuk.Dari Putu
“Yama..kamu tanya aku mau minta apa sebagai hadiah ulang
tahunku besok?Aku hanya minta sebuah medali emas yang tergantung dileher
kalian…itu saja.”tulis Putu di pesan singkatnya.Yama tersenyum,ia kangen dengan
semuanya…dia berjanji akan memenuhi keinginan Putu
“Setidaknya masih ada hari untuk esok yang lebih
baik….”ucap Coach Aji tiba-tiba
“Coach…”ucap mereka kompak
“Mari sama-sama kita wujudkan mimpi dipesan singkat
itu,kita bangkitkan lagi semangat kapten mungil kita..kita..kita kibarkan merah
putih di Singapura..”ucap Coach Aji penuh haru,ia tak ingin mental anak-anaknya
jatuh
“Kapan kita pulang?”tanya Evan
“Kita bangkitkan dulu semangat supporter,kita wujudkan
mimpi pesan singkat,kita pulang…”ucap Yama tertahan
“Pulang dengan kalungan medali emas..”ucap Evan
semangat,senyumnya kembali bersinar terang.
Setidaknya mereka butuh
waktu sendiri untuk tenang,dan butuh gemuruh gelegar semangat bukan
ocehan.Bukan masalah FIFA,PSSI ataupun Menpora…tapi masalah adakah jiwa
kemenangan dan sikap optimis dibalik bencana?Percayalah…akan ada pelangi indah
setelah hujan.
dA_
Komentar
Posting Komentar